Saya selalu mendapat jawaban yang tidak memuaskan setiap
bertanya “ Bagaimana rasanya melahirkan”. Kalau ditanya sakit atau tidak pasti
banyak yang bilang tidak. Waktu itu saya tidak percaya, masa iya sih melahirkan
berdarah-darah gitu kok tidak sakit, liat aja ngeri. Tapi selalu saja saya
dapat jawaban yang jauh dari memuaskan. Sakitnya sebentar saja setelah anak
keluar sakitnya langsung hilang begitu kata mereka. Akhirnya saya
manggut-manggut dan mengira bahwa rasa sakit itu hilang karena bahagia yang
luar biasa mendapat karunia seorang anak.
Setelah menikah saya pun hamil. Pertanyaan seputar bagaimana rasa
melahirkan, jawabannya tidak pernah memuaskan bagi saya. Hingga hari perkiraan
lahir semakin dekat. Yang saya rasakan saat itu adalah sakit yang luar biasa.
Bahasa kerennya sih kontraksi. Sampai pada dua malam sebelum melahirkan rasa
sakit itu makin menjadi. Rasa sakit seperti nyeri haid. Tapi saya masih ingat
bahwa jika kelahiran semakin dekat maka rasanya seperti orang mau buang air
besar. Tapi saya hanya merasakan nyeri yang luar biasa hingga dua hari kemudian
saya mengeluarkan darah.
Panik?
Iya. Saya panik. Meski sudah berkali-kali membaca bahasan
proses persalinan namun rasa sakit dan bercak darah yang muncul membuat saya
tak sabar bertemu sang buah hati. Meski saya sudah tahu juga bahwa pada
kelahiran pertama untuk ke bukaan dua hingga ke bukaan tiga memerlukan waktu
lama bisa sampai berhari-hari. Namun saya tidak sabar, saya ke rumah sakit hari
itu juga.
Sesampai dirumah sakit saya diperiksa. Baru bukaan dua.
Pulang tidak ya? Batin saya. Ketika saya memilih opsi untuk
pulang para perawat menahan, alasannya untuk memantau perkembangan. Akhirnya
hari itu juga saya memutuskan rawat inap. Sialnya saya diinfus. Padahal saya
tidak ada keluhan apa-apa tapi diinfus juga, gara-gara infus ini saya menjadi
sangat trauma dengan jarum suntik. Jadi kalau anda belum pernah diinfus jangn
mau deh diinfus. Segala pergerakan kita terbatas. Jarum kesenggol dikit
sakitnya minta ampun belum lagi kalau cairan infusnya macet bagian yang diinfus
terasa ngilu sekali.
Semua anggota keluarga menyarankan saya untuk berjalan-jalan
supaya bukaannya cepat nambah. Tapi gara-gara infus sialan itu kebebasan saya
untuk bergerak menjadi terhambat. Akhirnya saya jalan modar-mandir di dalam
kamar. Sakit seperti nyeri haid masih mendera saat itu. Belum lagi kaki
pegal-pegal karena jalan dari pagi hingga menjelang malam. Ngantuk iya juga sih
tapi saya dilarang tidur.
Habis magrib saya diperiksa lagi. Masih bukaan dua. Duh
kapan lahirnya anakku, pikir saya. Akhirnya dokter membuat keputusan untuk
memberikan induksi agar bayi cepat keluar. Tiba-tiba terbayang perkataan kakak
saya, melahirkan itu gak sakit tapi kalau diinduksi duh luar biasa sakitnya. Tapi
saya hanya diam dan menurut.
Perawat mulai menyuntikkan cairan itu. Tak lama berselang
nyeri hebat terasa. Masih saya tahan sampai pukul Sembilan saya dipindahkan ke
ruang bersalin.
Entah kenapa ruang bersalin tiba-tiba menjadi terasa horror
alias menakutkan bagi saya. Sebelah saya ada seorang ibu yang nampaknya sudah
lemas mengejan. Perawat dan dokter sudah menyemangatinya untuk mengejan lebih
kuat lagi tapi ibu itu menyerah. Akhirnya bayinya dikeluarkan dengan cara
divakum. Tak lama saya dengar suara tangis bayi baru lahir. Alhamdullillah,
kata saya dan berharap segera mendengar suara tangis bayi saya.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11. Kontraksi yang
saya alami semakin menguat. Tak tahan saya menangis. Perawat menghibur bahwa
obat bekerja, tunggu hingga saatnya. Sekitar jam 1 barulah saya merasakan rasa
seperti buang air besar tapi belum kuat. Saya tahan, saya ambil napas
pendek-pendek sesuai di buku panduan yang saya abaca agar saya tidak mengejan
sebelum waktunya. Hari makin pagi kira-kira jam 3 rasa seperti buang air besar
seperti tidak tertahan lagi. Saya meminta suami untuk memanggilkan perawat.
Senangnya saya waktu perawat mengatakan saya boleh mengejan. Rasanya seperti hidup kembali setelah lelah menahan sakit. Saya mengejan kuat-kuat, sekitar empat atau lima kali mengejan akhirnya saya mendengar tangis anak saya. Bahagia, haru dan lega. Rupanya melahirkan itu tidak sakit hanya proses sebelum melahirkan itulah yang sakitnya luar biasa.
Saran saya sih untuk anak pertama jangan terburu-buru ke rumah sakit ya…ke rumah sakitnya nanti saja menjelang mengejan daripada seperti saya diinduksi yang membuat sakit minta ampun.
Senangnya saya waktu perawat mengatakan saya boleh mengejan. Rasanya seperti hidup kembali setelah lelah menahan sakit. Saya mengejan kuat-kuat, sekitar empat atau lima kali mengejan akhirnya saya mendengar tangis anak saya. Bahagia, haru dan lega. Rupanya melahirkan itu tidak sakit hanya proses sebelum melahirkan itulah yang sakitnya luar biasa.
Saran saya sih untuk anak pertama jangan terburu-buru ke rumah sakit ya…ke rumah sakitnya nanti saja menjelang mengejan daripada seperti saya diinduksi yang membuat sakit minta ampun.
Impian saya untuk melahirkan secara normal akhirnya terwujud
dan terjawab sudah pertanyaan saya. Rupanya memang susah ya menjawab pertanyaan
seperti apa rasanya melahirkan.